Minggu, 10 September 2017

Hanoi Trip (Enggak Terlalu Nge-Trip Sih)-Part 1

Mari kita kembali ke Asia sejenak setelah saya memposting beberapa pengalaman trip saya di Eropa. Tepatnya di salah satu negara Asia Tenggara, Vietnam di Kota Hanoi. Kenapa saya pilih Hanoi? Karena ini gratisan saudara-saudara hahahaha.


Saya ikut program yang diselenggarakan oleh CIMPA 2017 dan kebetulan saya pilih yang ada di Hanoi, Vietnam. Berbekal info dari teman saya lalu saya searching gitu. Alhamdulillah lolos! Walaupun yang diganti cuma uang tiket saja hehehe.
Jadi sebenarnya acaranya ini semacam kuliah selama kurang lebih 14 hari. Kebetulan waktu itu tempatnya di Hanoi University of Technology - nama programnya sih SEAMS School in VIASM. Beberapa perwakilan dari negara-negara di Asia Tenggara ikut hadir. Indonesia sendiri ada 4 orang, saya dan teman perempuan saya (kebetulan kita dari satu alumni ITS Surabaya - satu fakultas pulak), kemudian 2 orang lagi dari Jogya (UNY dan ITB). Peserta sendiri ada yang dapat ganti uang tiket+akomodasi ditanggung oleh panitia dan ada yang membayar sendiri. Alhamdulillah kami berempat dapat uang pengganti tiket+dapat akomodasi dari panitia.Temanya tentang Biological Model in Mathematics atau apalah seingat saya itu.



Enak sih...
Kita dikasih tempat di hotel. Namanya Hoa Hong Hotel, dalam bahasa Vietnam artinya Rose Hotel Tapi!!! Sumpah parah banget hotelnya! Seluruh staff-nya kagak ada yang bisa Bahasa Inggris boook!! Jadi saya kalau ngomong pake bahasa Tarzan gitu! Pantesan pas pertama kali saya dan teman perempuang saya datang kami diminta paspor. Terus mereka ngmongnya pake telunjuk-telunjuk gitu. Kami kira mereka bisu lho. Ternyata mereka kagak bisa ngomong pake bahasa inggris 😆


 Ini pengalaman pertama saya ketemu staff hotel kayak mereka ini
Pernah hari ke 5 apa ke 6 gitu ada orang terjebak dalam lift (sumpah hotel ini creepy bangets!) dan orang yang terjebak itu teriak-teriak dan panik (dalam bahasa Vietnam yah). Kita dong orang Indonesia suka kepo langsung keluar lihat dan hebh sendiri. Lalu teman saya yang dari UNY bilang, "Coba ya mbak kalau yang kejebak itu orang asing gimana dong. Orang staff hotelnya kagak ngerti bahasa inggris. Untung aja yang kejebak itu orang Vietnam sendiri"
Alhasil kita besoknya enggak pakai lift lagi (cuma sehari doang sih hahahaha. Karena kita semua di kamar lantai 4. Dasar Indonesia banget ya males jalan).



Materi yang diberikan dalam kuliah selama 14 hari itu bermacam-macam, kebanyakan sih matematika statistik yang bikin pusing 😵😑. Jujur saja ya saya orang Statistika tapi saya paling lemah dalam bidang keilmuan tersebut 😕😵. Sekuat apapun saya bertahan pada akhirnya saya enggak kuat dan ngantuk berat pokoknya tiap kali ada materi itu. Saya selalu sedia kopi, habis gitu malamnya kepala saya pasti migrain gara-gara kopi. Udah gitu dosennya dari Prancis kalau ngomong gak jelas banget. Malah ada teman saya dari Thailand terang-terangan tidur dalam kelas 😂😂.

Kami paling semangat habis pulang dari kuliah...
Sehabis kuliah kami sempatkan jalan-jalan wisatalah ke kota Hanoi. Bodo amatlah buat esok, kami sama-sama enggak belajar. Sayang sekali kalau kelewatan gak jalan-jalan.
Saya mengira di Indonesia itu paling parah urusan transportasi. Ternyata Indonesia jaaaaauuuuhhh lebih baik dari Hanoi. Di Hanoi itu, mau nyabrang seperti setor nyawa. Gimana enggak! Lha wong jelas-jelas lampu transportasinya merah, para pengendaranya terobos terus, padahal jelas-jelas di depan mereka ada polisi. Pengguna jalan?! Bodo amat!!! 😎😎😏 Udah gitu helm yang mereka pakai bukan helm standart pengguna kendaraan bermotor. Mereka memakai helm yang dipakai di proyek-proyek gitu. Udah gitu ada lubang untuk kuncir kuda (kalau cewek). Ngakak abis deh pokoknya! (Sambil berdoa kita enggak ditabrak)

Di Hanoi juga ada penjual makanan kaki lima. Pada hari ke-4 atau ke-5 gitu kami ikut bergabung dengan rombongan peserta dari Jepang, Thailand, Kamboja, dan dari Vietnam sendiri mengunjungi tempat wisata di kota. Jarak yang ditempuh umayan sih sekitar 15 menit menggunakan taksi. Kami dinner di kaki lima. Saya sangat bersemangat untuk urusan makan. Karena jujur saja makanan yang disediakan oleh panitia tidak eligible untuk dimakan bwakakaka. Menu kambing alias vegetarian, padahal kami sangat butuh protein hewani.


 Tidak kusangka dan tidak pernah kubayangkan! Wew! Mending jajan di kaki lima di Indonesia deh! Tempatnya itu enggak banget masak iya kita makan dekat bak yang isinya piring kotor yang menumpuk dan tidak segera dibersihkan. Kalau di Indonesia sih tempat cuci piring kan di belakang bodo amat yah yang penting kita kagak liat piring kotor jadi. Kalau di Hanoi?! Weeew macam makan bareng di tempat cuci piring hahahaha. Dan menu yang disajikan adalah ikan, bihun, yang baunya super amis. Sebenarnya saya sudah menanyakan sih ke teman saya kalau tu adalah makanan laut, dan kuahnya dari kuah ikan. Tapi baunya itu lho gengs bikin mual! Alhasil deh kami ber-empat beergidik, dan akhirnya kami saja yang enggak makan. 
Anyway, kami coba KFC dan Lotte Chicken. Lumayan sih kalau KFC 30.000 IDR udah dapat kentang dan sup, tapi ikannya kurang sip. Kalau yang di Lotte itu enak banget! Udah gitu pegawainya bahasa inggrisnya bagus dan baik banget! Kami juga coba makanan halal di dekat masjid. Mantab jiwa kalau itu 30.000 IDR tapi rasanya enak banget! Murah!!

Tujuan wisata kami, sih seputar kota saja sih. Karena kami ikut rombongan. Ngikut aja pokoknya. Kami ke Hoan Kiem Lake, One Pillar Pagoda, Temple of Jade Mountain, Hanoi Opera House. Menurut saya semuanya biasa saja. Saran saya sih perginya sore sampai malam, karena lampion dan warnanya bagus dibanding kalau kita pergi pas pagi atau siang. Kurang menarik.
Jadi Hoan Kiem Lake itu kayak tempat berkumpulnya muda-mudi gitu. Pada saat weekend mereka di sekitar city centernya itu semua sanak keluarga, muda-mudi keluar untuk bekumpul menikmati danau dan bercengrama (cieleee bahasanya), pokonya gitu deh. Ramai! 😵
Ada cerita lucu waktu kami mengunjungi One Pillar Pagoda atau Temple of Jade Mountain akibat keparahan penjaga tiket yang haqiqi 😁😁.



"Waktu itu penjaga tiket meminta identitas diri. Emang dasar ya entah itu cerdik atau licik, (beda tipis), saya, teman perempuan saya, dan teman saya dari ITB bukan lagi mahasiswa. Malu dong ya kami bertiga sendiri yang bukan mahasiswa. Akhirnya kami bertiga sepakat pakai KTP atau kartu apaunlah yang penting ada identitas diri kam. Eh sumpah saya dan teman saya yang dari ITB lolos. Saya pakai KTP, teman saya dari ITB pakai identitas perpustakaan di TB dulu dan sudah expired, dan teman perempuan saya pakai kartu ASKES! Parah sumpah!
Aslinya penjaga tiketnya itu curiga dengan kartu ASKES teman perempuan saya. Mungkin tidak ada fotonya. Nah, ini kegokilan yang haqiqi, teman saya dari UNY bilang dan ngeyel banget kalau ASKES itu adalah kartu pelajar. Dia bilang di Indonesia itu ada yang namanya ASKES University, dengan tampangnya yang meyakinkan. Saya langsung kabur aja karena udah gak tahan pengen ketawa ngakak. Si penjaga tiket dengan tampang bingung karena gak bisa inggris akhirnya meloloskan kartu teman saya. Saya tidak berhenti ketawa kalau ingat kejadian itu 😂😂. Alhasil kita berempat berhasil masuk dengan menggunakan harga mahasiswa.
Kami sangat bersyukur ternyata kami tidak rugi-rugi amat, karena tempat wisatanya biasa saja dan boring

Hari Minggu, kami mengikuti study excursion yang diadakan oleh pihak panitia. Dan gratis pastinya catet! Tapi kami sangat menyesal mengikuti kegiatan study excursion yang diadakan oleh panitia. Karena destinasi yang disediakan panitia sangat membosankan! Kami rugi banget dan mendumel terus sepanjang perjalan. Karena sebagian besar yang disediakan oleh panitia adalah acara mengunjungi museum, dan ternyata museumnya parah banget! Gak ada informasi mengenai artefak-artefak atau lukisan yang ada di museum. Bahkan tidak ada tuor guidenya atau map museumnya. Dan kami sudah mengunjungi Hang Kiem Lake di hari sebelumunya bersama rombongan peserta.

Salah seorang peserta dari Malaysia sebenarnya bilang kepada kami, mending kalian pergi sendiri saja. Ternyata memang betul saran dari dia.

Makan siang yang disediakan panitia bikin kami merasa tambah apes. Menunya sungguh campur aduk. Bikin mual. Menunya seperti ikan lele, kemudian kuahnya asam, amis, pedas dan bikin merinding ketika mengendusnya. Hanya kami berempat yang tidak makan sama sekali. Jadi gondk berat hari itu.



Finally, kami berempat memutuskan pergi ke masjid dan beli oleh-oleh di market dekat city center.
Makanan di masjidlah yang membuat kami bersemangat lagi! Menunya hebat dan rasanya lezat!
Puas pokoknya, sampai gak sempat ke foto gara-gara kami semua kelaparan.Setelah perut terisi penuh, kami mencari toko oleh-oleh. Saya diberitahu teman saya yang sebelumnya mengikuti kegiatan ini,  kalau mau beli oleh-oleh kopi belinya di supermarket Intimax, karena harganya yang murah dan lengkap. Tempatnya di dekat Hoan Kiem Lake.



Sebelum ke Intimax, kami jalan-jalan di old townnya Hanoi, sehabis dari masjid, karena masjidnya sendiri di sekitar old town. Setelah kami puas di old town, kami ber-empat memutuskan membeli oleh-oleh kopi di Intimax. Saya?! Jangan ditanya!!! Kalap!!! Ya ampun saya belanja segitu banyaknya, ada kopi, makanan-makanan kecil vietnam, teh, cuman habis 350.000 IDR dan itu sekresek gede (pada akhirnya inilah yang menyulitkan saya! Tambah bagasi Air Asia. Apes!)
Setelah berbelanja di Intimax kami mencari toko souvenir, dan ding dong, akibat kepelitan saya dan teman-teman saya yang haqiqi, kami tidak menemukan toko souvenir murah, dan pada akhirnya kami menunda membeli hari itu hahahaha buang-buang waktu banget ya. Keapesan kami tentang study excursion terobati. Old town di Hanoi juga lebih bagus dibandingkan destinasi wisata di study excursion dari pihak panitia. Mission completed! 😄
Kami kembali lagi ke hotel dan tidur dengan nyenyak... 


Jalan-jalan kemudian dilanjutkan lagi, karena waktu kita di Hanoi tinggal beberapa hari lagi. Karena kami belum menemukan souvenir murah, kami balik lagi ke old town dan disana kami akhirnya menemukan souvenir murah. Oh iya!  
TIPS: 
  1. Hati-hati dengan barang berharga ketika di OLD TOWN!!! Menurut teman saya dari UNY dan ITB, ketika saya dan teman perempuan saya asik berbelanja, dua orang pria asing mengincar kami, tapi dua teman saya menyadari dan membuntuti di belakang kami pas. Pada akhirnya orang asing tadi pergi karena menyadari kalau mereka ketahuan mau mencopet. Thanks berat deh sama dua orang teman saya tadi! 😊
  2. Menawar harga itu SAH! Jangan malu untuk menawar ketika membeli oleh-oleh ya 😏 (tidak berlaku di supermarket)
  3. Bisa bayar pakai Rupiah! FYI, Nilai mata uang rupiah lebih tinggi dibanding Vietnam Dong, berasa orang kaya bukan hehehehe
  4. Taksi sangat diperlukan! Jangan kuatir tarif taksi tidak terlalu mahal kok, karena transportasi umum mereka tidak mendukung untuk turis (Namun kita harus ngomongnya pakai bahasa tarzan juga ya ke supir taksinya)
Bersambung Part 2...






Sabtu, 22 Juli 2017

10 Bulan Menjadi Kaum Minoritas

Ciee yang teringat masa lalu...
Agustus, 2014 sampai Juli 2015 selama 10 bulan saya menjadi kaum minoritas di negera yang asing bagi saya. Saat itu saya masih meraba-raba seperti apa Estonia itu dan bagaimana kelak saya akan menjalankan ibadah wajib 5 waktu atau sunnah seperti yang saya lakukan di Indonesia. Saya mencari tahu bagaimana kehidupan bergama di Estonia, seperti dugaan saya hampir separo penduduknya adalah atheis.

Sebulan...
Ibadah...
Menjadi kaum minoritas cukup melelahkan bagi saya. Saya harus terbiasa dengan waktu sholat yang menurut saya saat itu aneh. Pada bulan Agustus adalah musim panas (menurut saya tidak panas-panas amat tapi entah kenapa orang Esti suka sekali, menurut saya terkesan sejuk malahan) waktu untuk ibadah masih dibilang agak wajar. Jadwal sholat subuh jam 5.30 Dzuhur sekitar pukul 13.00 lebih, Ashar sekitar pukul 16.00, Magrib pukul 19.00 dan Isya sekitar pukul 21.00. Alhamdulillah saya bisa mengikuti ritme sholat wajib.

Kemudian, apabila saya di kampus, ini yang awalnya menjadi kendala saya untuk sholat. Selama hampir 2 bulan saya benar-benar clueless. Sehingga dengan berat hati saya sering menjama' sholat. Apalagi saat itu jadwal kuliah saya pada dari Senin pagi sampai Jumat sore.
Suatu hari, ada anak-anak dari Turki mengundang teman saya makan di apartemen mereka. Saya turut serta datang memenuhi undangan teman saya. Disana mereka memberitahu kalau kita bisa sholat di private room perpustakaan.
Jadi TUT menyediakan individual room di perpustakaan yang digunakan untuk belajar. Ruang itu terdiri dari bilik kecil. Stiap lantai ada lebih dari 20 indvidual room. Tidak hanya individual room namun juga discussion room, berupa bilik agak besar dibanding individual room sehingga bisa diskusi. Berita gembiranya kita bisa sewa indvidual atau discussion room tersebut. Berita buruknya kadang individual room sering penuh. Kalau misalnya penuh, saya dengan berat hati menjama' sholat. Saya yakin Allah Maha Pemurah dan Maha Tahu.

Ini perpusnya TUT. Bagus banget kan! Ini tempat favorite saya pokoknya. Nyaman banget udah gitu koleksi bukunya lengkap!


 Penampakan bilik di individual room. Mirip wartel kan ya hehehe. Kita bisa belajar disini. Individual room ini bisa disewa. 1 Minggu kalau tidak salah 15 Euro, dan saya sering banget sewa ruangan ini. Lumayan, karena saya bisa leluasa menggunakan ruangan ini tanpa perlu antri. (Masnya disitu lagi nunggu ruangannya kosong)

Berada 3 bulan lebih sedikit saya di Tallinn, saya sudah mulai nyaman. Saya tidak memiliki masalah tentang rasisme selama 3 bulan tersebut. Kadang beberapa orang tua (nenek-nenek dan kakek-kakek) melihat saya dari atas sampai bawah dengan tatapan mata tajam dan ada yang tersenyum lalu mereka mengajak saya mengobrol dengan bahasa Rusia atau Eesti, tentu saja saya tidak paham. Saya hanya tersenyum dan mengangguk. Mostly, para orang tua itu tidak aneh-aneh dan baik.
Auntumn sudah dimulai di Tallinn saat itu, suhu udara semakin dingin. Namun, saya sangat menikmati (meskipun saya benci dingin tapi menyenangkan sekali merasakan Auntumn atau Winter). Saat itu datang e-mail dari pihak Academic Hostel, mereka menginformasikan jika saya harus mencari roommate. Cobaan dimulai, saya difitnah dan dianggap menganggu ketika beribadah. Bisa di baca di blog saya sebelumnya disini. Itu cobaan yang menurut saya membuat saya nelangsa. Saya harus bersikap dewasa. Tanpa babibu saya protes ke pihak hostel dan saya pindah. Terus terang itu pengalaman yang paing tidak menyenangkan selama saya di Tallinn.

Saya merasakan "ohhh gini yaaa jadi kaum minoritas". Saya menyadari saya hidup di Indonesia yang menghargai antar umat beragama. Namun, sekarang ini saya sedikit miris dengan pemberitaan di media massa Indonesia yang menjadi minyak dan micin.
Dimanapun agama dan kepercayaan adalah hal yang sensitif untuk dibahas. Kadang saya suka jengkel kalau sudah membeda-bedakan agama satu dengan yang lain atau etnis satu dengan etnis lain. Pelajaran yang saya dapat selama menjadi kaum minoritas adalah sudah biarkan mereka menganut kepercayaan yang mereka anggap benar, kita tetap teguh terhadap agama dan kepercayaan kita. Tidak usah kita ikut menghakimi. Allah SWT lah yang berhak menilai ibadah kita seperti apa tidak usah kita merasa sombng di atas orang lain. Dan saya paling benci dengan orang yang meng-kafirkan orang. Kita manusia yang tidak pernah luput dari dosa jadi kenapa kita meng-kafirkan orang kalau ibadah kita saja masih kurang. Kita hidup di Indonesia yang berasaskan Pancasila. Prinsip saya adalah agama ku adalah agama ku, agama mu adalah agama mu TITIK!
Kecuali kalau ada orang berbeda keyakinan bertanya baru saya akan menjawab sesuai ilmu agama yang saya tahu, tapi kalau tidak saya tidak akan berkomentar jika menyangkut kepercayaan. Karena saya tahu lebih baik tidak usah membahas masalah sensitif, lagipula masih banyak hal-hal lain yang bisa kita bahas. Jadi curhat yeee 
Pengalaman inilah yang membuat saya berpikiran terbuka dan dewasa. Saya tidak ingin membuat rusuh berkomentar di media elektronik terkait kepercayaan atau agama. Dari komentar kita yang kita posting, kita akan tahu seberapa orang tersebut peduli atau tidak.

Puasa..
Saya sempat merasakan Ramadhan di Tallinn sekitar 1 minggu lebih. Bohong kalau saya bilang biasa saja. Bayangkan saja, saya lahir dan dibesarkan serta tinggal  di negara tropis puasa paling mentok cuma 12 jam. Ramadhan tahun 2014 bertepatan dengan Summer session. Sungguh, saya salut dengan Muslim yang tinggal di daerah Scandinavia, Estonia masih mending Baltic area mentok puasa 21 jam hahahaha 😁😁. Iya saya merasakan puasa hampir 21 jam. Mending ya daripada di Norway sana.
Pada saat Summer matahari akan selalu bersenar sepanjang hari. Ya! Malam hanya dalam hitungan jam. Sekitar 3-4 jam saja akan gelap, tidak terlalu gelap sih seperti waktu magrib gitu masih ada semburat merah. Pernah waktu itu adalah perayaan White Day (apalah lupa namanya). Dimana pada hari itu hari Matahari akan bersinar sepanjang hari alias kagak ada malam gengs 😎😎😎

 Ini jam 12 malam. Kebayangkan Matahari tidak pernah tidur pas waktu Summer hehehe

Waktu Ramadhan, Subuh adalah pukul 02.30 kurang (dini hari) sedangkan Magrib kurang lebih antara pukul 22.00 sampai 23.00. Jadi, jangan mengeluh kalau di Indonesia puasa 12 jam. Nohh lihaaat negara-negara Eropa bagian atas!


 Buka bersama dengan beberapa teman Muslim saya ini Turkey's dish banget

 Sup sayur, lagi Turkey's sty;ele. Jujur saya tidak terlalu suka. Eneg karena krimnya terlalu banyak

 Baklava. Saya juga sebenarnya tidak suka dengan pastry seperti ini. Menurut saya lidah saya berasa aneh setelah makan sesuatu macam Baklava atau Croissant..

Namun, bersyukurlah kalau Ramadhan tepat musim dingin atau Winter. Jeda Subuh dan Magrib cuma 5 sampai 7 jam. Jadi kalau misal punya hutang puasa bayarnya pas Winter aja gaes (sesat 😁).
Apapun itu kita harus bersyukur deh tinggal di Indonesia jarak antara pagi dan malam seimbang. Saya shock berat waktu itu gara-gara musim dan waktu yang beda dan tidak masuk akal.
Pas Auntumn dan Winter waktu  akan lebih lambat satu jam dibanding pas Summer dan Spring. Jadi gini nih, selisih waktu Indonesia dan Estonia waktu Spring dan Summer lebih cepat Indonesia 3 jam tapi kalau pas lagi Auntumn dan Winter akan 4 jam lebih cepat waktu Indonesia.

Tips puasa 20 jam...
Banyakin makan buah-buahan segar, jus, air putih, makan jangan kenyang-kenyang, 2 sendok madu sebelum sahur.
Wajib sahur!
Habis berbuka puasa Sholat Magrib, lalu Isya dan Tarawih

Menu buka puasa hari pertama

Don't!
Minuman berkarbonasi dan soda
Tidur! Tamatlah kalau tidur nanti bisa melewatkan sahur! Jadi jam tidurnya diganti mulai pukul 7 sampai pukul 10 malam. Masaknya pas jam 4 atau jam 5 sore gitu.



Strawberry adalah buah favrite saya. Semua berries saya suka ding 😁😁 
Saya memang paling suka dengan buah yang rasanya masam. Strawberry di Estonia gede-gede saya puas banget. 7Euro bisa dapat sekresek gede.

 Jus buah ini membantu saya tetap fit selama bulan Ramdhan. Kebutuhan vitamin kita jadi terlengkapi

Makanan dan minuman... 
Urusan makan ini yang menurut saya repot. Karena saya seorang Muslim saya tidak bisa makan sembarangan. Sebisa mungkin saya menghindari segala sesuatu makanan yang tidak diolah secara halal, pork dan alkohol. Mau tidak mau saya harus masak sendiri (sekalian berhemat dan diet hahahaha). Saya ganti semua olahan yang mengandung daging ayam atau daging sapi dengan seafood.

 Kadang sarapannya seperti ini. French toast saya isi dengan sosis

 Nasi goreng seafood+jamur kreasi Ria Dhea. Honestly, saya paling tidak suka nasi goreng buatan diri sendiri. Dimana-mana nasi goreng itu enaknya beli. Soalnya banyak micinnya 😂

 Kalau ini pas hari raya dul Adha di rumah Mbak Diini. Habis pulang sholat Ied kita pesta sendiri. Mbak Dian rela bikin sate ayam demi kita. Makasih mbak-mbak 😏

 Ini merayakan Idul Adha. Tuh Mbak Dian niat banget bikin lontong wkakakaka. Kita makan gini aja bersyukur banget

 Kalau ini saya lupa ada acara apa. Pokoknya tiap kali saya main ke tempat Mbaj Diini selalu aja makan-makan. Kali ini ada ayam goreng, lalapan (tanpa daun kemangi yang pasti). terus ada spring roll, tetep yaaa sate

FYI, di Tallinn untuk membeli daging halal masih lumayan susah. Kita harus pergi ke masjid atau pergi ke toko halal Turki yang letaknya jauh dari kota. Saya tidak sempat kalau setiap seminggu sekali harus pergi ke toko halal Turki. Beli di masjid pun tidak bisa diandalkan, terkadang pemilik toko daging halal sedang tidak ada di masjid. Ketika saya beruntung, saya bisa menemukan daging ayam halal di supermarket dekat kampus. 1 bungkus beratnya sekitar 3kg sampai 5kg daging ayam yang telah dikemas dan kebanyakan adalah paha atas dan paha ayam super gede yang belum dipotongi kecil-kecil. Hufft banget deh mau makan enak selalu ada aja dramanya hahahaha. Jujur saya tidak sanggup menghabiskan ayam super gede itu dalam sehari.

 Saya lagi pengen banget makan kimbap. Akhirnya saya bikin kimbab palsu macam ini. Yang penting halal deh 😊


 Pernah juga bikin bubur ayam gara-gara habisin stok abon ayam yang tinggal dikit.

 Kadang bikin Indomie, tapi saya kasih sayur dan dumpling. Dumplingnya itu dumpling vegetarian. Jadi, isinya sayur (Ini sungguh dosa! Makan segini banyaknya dan saya habis!)
 Salah satu varian Indomie yang di jual di Estonia

 Kadang kalau malas masak cuma bikin oatmeal. Praktis tinggal siram air panas, kasih susu, trs kasih selai stroberi favorit

Dengan berbekal ilmu dari emak tersayang saya (untung dulu emak saya sering nyuruh-nyuruh saya bantuin di dapur. Kagak kaget lagi sudah. I love you Ibuk 😙😗💓) saya ungkep deh daging ayam jumbo itu. Saya biasa beli yang 5kg karena yang 3kg sering kosong. Daging ayam 5kg yang sudah saya ungkep saya taruh di frezzer cukup utuk 2 sampai 3 minggu ke depan (Alhamdulillah saya tidak keracunan hampir satu bulan lho itu hahaha). Kalau bosan makan daging ayam saya ganti dengan seafood, telur, jamur, tofu (yang menurut saya rasanya tidak enak, keras gitu), sayur yang selalu ada dalam menu harian saya.


 Hasil kreasi sup kentang + bakwan jamur
Hasil kreasi Fu Yung Hai Jamur ala ala 


 Kaalau ini jajan di cafetaria. Sok-sokan doyan pada akhirnya menyisakan salad itu hiks. Berasa dosa banget! Buang-buang uang 😢

 Kalau ini pancake Nutella. Sebelah kanan saus itu ikan hering, roti hitam (lupa namanya) plus telur rebus (ini tidak recommended banget. Rasanya tidak karua-karuan). Tapi pancakenya enak banget! Belinya juga pas di cafetaria

Namun, terkadang saya juga jajan. Bismillah, kalau jajan nasi goreng saya selalu memilih seafood. Wallahualam masaknya gimana. Atau jajan kebab di toko Turki di kota yang jelas halalnya. Favorit saya jajan pie, kangen banget makan pie disana. Saya paling suka isiannya telur dan salmon gak nanya. Terus saya juga suka pizza. Crazy benar! Saya bisa menghabiskan 1 pan pizza ukuran besar pas winter sendirian! Saya selalu memesan pizza hawaian atau brazilian which is isiannya nanas dan seafood.
Jujur kalau untuk masalah makanan disana Alhamdulillah saya gak rewel (beda banget kalau pas di Indonesia).

 Ini cake kesukaan saya. Saya tidak suka sesuatu yang manis. Tapi cake ini tidak terlalu manis ada rasa asam dari buah rasberry. Cake ini belinya di cafetaria kampus. Cukup mahal ssih sekitar 1Euro. Mungkin kalau saya tdak dapat beasiswa saya mikir-mikir dulu mau beli ini hehehehe.


 Di Indonesia pingin nasi kuning beli aja. Kalau pas di Tallinn pingin nasi kuning? Ya bikin sendiri. Mana ada orang jualan nasi kuning seperti ini. Nasi kuning seperti ini mewah banget. Ini nasi kuning komplit. Ada mie goreng, perkedel, sambal goreng tempe dan tahu, ayam balado. Btw tempenya import dari Helsinki bwakakaka

Kalau minuman sih saya tidak suka minuman soda, jadi saya tidak pernah mencoba minuman soda. Eh pernah ding, tidak sengaja beli air mineral yang berkarbonasi, waktu itu saya tidak pernah tahu jika ada air mineral yang berkarbonasi, baru tahu ya pas di Tallinn itu.
Saya terbiasa minum air putih atau teh dengan madu atau lemn atau jus. Selama 10 bulan di Tallinn, Alhamdulillah saya tidak pernah minum alkohol. Saya ingat dalam Al Qur'an telah diperingatkan jika satu tetes khamar akan membawa kita ke dalam panasnya api neraka. Cieee.


 Ini ada Cap Cay full banget dah. Karena ini adalah hari terakhir saya di Tallinn, jadi saya menghabiskan isi kulkas saya. Isian Cap Caynya bervarian ada tofu, sosis (belinya di toko halal Turki, endes banget dah sosinya), jamur.

Apalagi ya...
Untuk masalah toilet saya selalu sedia tisu basah, botol air mineral kecil, dan sabun cair kemanapun saya pergi. Jujur saya tipe orang yang jijik melihat sesuatu yang jorok. Saya selalu lap dudukan WC sebelum saya pakai.
Mukena juga selalu saya bawa kemanapun saya pergi. Ada yang unik nih, ternyata tidak semua negara memakai mukena saat sholat. Saya pernah melihat orang Rusia sholat memakai rok selutut, kaos kaki panjang, baju panjang, bahkan ada teman saya dari Afrika yang sholat pakai dress dengan potongan lengan yang minim. Ada juga teman saya yang pakai celana jeans kaos oblong dan krudung ala kadarnya. Namun, mostly teman saya yang dari Turki mereka memakai jubah atau dress mereka. Waktu mereka tahu saya punya mukena mereka cukup terkesan.
Kalau untuk urusan wudhu, saya biasanya wudhu di wastefel toilet perpus, walaupun tempatnya super kecil hehehehe.

Tidak semua kenangan itu indah. Namun, beberapa kenangan yang menyakitkan justru menjadi pembelajaran kita ke depannya. Saya tidak menyesali hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup saya. Pengalaman buruk selalu menjadi media pembelajaran bagi saya untuk berhati-hati dalam melangkah dan menyikapi. Disaat itulah kedewasaan saya diukur.

With love,
Ria Dhea

Senin, 05 Juni 2017

News Letter Interweave 2017 Erasmus+ [Ada Ria Dhea!]

Tidak menyangka sama sekali kalau ada artikel saya di New Letter nya Interweave Erasmus+ beberapa waktu yang lalu. Iya narsis pasti dong! 😎😎😎
Jadi, tanggal 2 Desember 2016 seperti biasa panitia Interweave e-mail ke para grantees. Isi email itu adalah meminta para grantees untuk sharing pengalaman seputar Winter di host country. Hasilnya nanti akan dibuat booklet untuk ditampilkan di website Interwevae terbaru. Saya ya yang dasarnya memang suka salju langsung semangat bikin. Saya bikin pengalaman yang berkesan bagi saya pas pertama kali lihat salju.
Saya bersyukur sekali bisa merasakan salju tebal dan bermain perang salju dan bikin boneka salju. Rasanya susah sekali melupakan pengalaman pertama kali memegang salju. Maklum ya selama 25 tahun saya hidup di negara tropis nan panas. Hanya ada dua musim, panas kalau enggak hujan.

Nah pengumuman booklet tersebut telah di upload adalah tanggal 3 Maret 2017. Taraaaa! Tertampanglah artikel saya bersama foto narsis saya memakai coat kesayangan di Old Town dan foto cantik dengan boneka salju yang saya buat bersama teman-teman saya. Website Interweave dapat dibuka di sini! (Penting: Lihat halaman 6 😂😂😂)

 Dengan coat favorit saya masih langsing
Tengah-tengah pas sekali ya eheemm


Best wishes,
Ria Dhea

Trip to Oslo, Norway [Bagian 2-end]




Transport di Oslo lumayan menguras kantong seperti yang saya tulis sebelumnya saya dan teman saya berjalan menuju lokasi pertama yaitu sepanjang Old Town di Oslo. Suana Natal sudah tampak di Oslo. Old Town sudah dihiasi dengan lampu-lampu dan hiasan natal. Menarik dan sangat cantik. Toko-toko disepanjang Old Town sudah mulai penuh pernak-pernik Natal. Btw saya paling suka toko-toko yang ada di negara Eropa mereka itu menata tokonya sedemikian rupa jadi terlihat menggoda untuk didatangi alias menggoda untuk dilihat lalu dibeli.

Oslo transportation
 Oslo Port
Lanjut...
Menuju Royal Palace, Oslo. Berhubung November sudah masuk Winter, jadi taman sekitar Royal Palace sangat gersang dan sedikit butiran salju di sektar Royal Palace. Kami sangat beruntung saat itu karena ada upacara pergantian penjaga. Penjaga di Royal Palace ini tanpa ekspresi 😁😁. Tidak pernah senyum atau bisik-bisik penasaran berapa ya gaji mereka tidak terlihat kedinginan sama sekali tuh mereka

Salah satu tourist attaraction, pergantian penjaga setiap 3 atau 5 jam sekali gitu.

 
 Tuh kan mereka itu bahkan gak gerak sama sekali. Saya sempat mikir kalau pas ngupil gimana ya



Kita pergi ke Frogner Park atau Vigeland (sculpture) Park juga, sekali lagi tidak rekomended pergi ke Oslo ketika Winter (kecuali kalau ke Fjord loh ya atau hanya sekedar penasaran seperti apa salju itu. Selain itu lupakan 😆😆). Karena menurut saya tidak ada apa-apa di taman ini. Yah macam semua daunnya dan yang ijo-ijo merangas. Sayang sekali waktu kami pergi ke Oslo banyak sekali obyek wisata yang underconstruction dan dengan waktu kami yang terbatas kami hanya berputar-putar di Old Town. Padahal ada tempat yang ingin saya kunjungi yaitu Opera House. Hampah deh ya  
Kecewa teralu mendalam, kami masuk deh ke toko sovenir yang ada di Old Town juga. Sayang sekali penjualnya tidak memperbolehkan kami mengambil foto.

Serpihan salju yang menyambut kami di Frogner Park
  Sculpture yang ada di Vigeland Park

Sculpture ini bentuknya wanita, laki-laki dan anak-anak yang ditumpuk-tumpuk. Untuk Informasi mengenai ini silahkan klik disini




Beberapa tempat yang sedang underconstruction

Daerah seperti Scandinavia atau Balitic suasana Natalnya sangat kental, yang menjadi favorit saya adalah Chistmas Marketnya. Karena tiap negara di daerah Scandinavia atau Baltic punya ciri khas sendiri. Mulai dari makanan khasnya sampai hiasannya.

Chirstmas in ld Town, Oslo


City Hall, Oslo






Selama 25 tahun saya tinggal di negara tropis dan tidak pernah merasakan bagaimana hidup di negara 4 musim. Saya tidak terbiasa memakai sarung tangan ketika keluar rumah. Nah berhubung di Norway ini dingin seru, dan saya tidak pakai sarung tangan inilah hasilya. Tangan kering, saking keringnya sampai terkelupas dan perih sekali.Baru kerasa pas masuk dalam ruangan.
Btw saking dinginnya saya dan teman saya memtusukan ngopi syantek di cafe. Kopinya alamak!!! Mahal seru!!! Saya mencari harga kopi termurah. Jujur saja selama saya tinggal di Indonesia saya cuma minum kopi kemasan yang murah seperti Goodday gitu. Nah akhirnya saya memesan secangkir Espresso pemirsah kalau di Euro kan sekitar 2.5 Euro. Dengan polosnya atau saya yang ndeso saya bersumpah tidak akan beli Espresso lagi! Pahitnya minta ampun. Pantesan waktu itu teman saya bilang "Yakin kamu beli Espresso?" Sial benar-benar jebakan Betmen!
 


Kami menginap di hostel Anker 450 NOK (mata uang ) untuk dua orang, dengan fasilitas 4 female bed dengan private bathroom dan sarapan. Jadi enak deh gak perlu shared bathroom dengan para penghuni hostel yang lain. Dan waktu itu satu kamar hanya ada saya dan teman saya.



Nah seharianan sudah perjalanan kami di Oslo. Kita berangkat subuh ke Oslo Central Station lagi lalu menuju ke bandara. Berharap suatu hari ke Norway lagi. See you again, Norway!!!

Best wishes,
Ria Dhea