Minggu, 31 Desember 2017

Jalan-Jalan di Tallinn, Estonia [Part 1]

Kalau dibanding negara tetangga Estonia seperti Finlandia, bisa dibilang akomodasi di Estonia murah. Karena saya pernah tinggal sementara di Estonia tepatnya di Tallinn, saya akan menceritakan beberapa tempat yang saya kunjungi. Saya sedikit menyesal karena saya kurang mengambil banyak foto ketika saya mengunjungi beberapa tempat di Tallinn. Saya tipikal mahasiswa kupu-kupu. Kuliah pulang kuliah pulang hehehehe. Selain itu ketika saya tidak memahami satu mata kuliah saya akan belajar dan mengurung diri di perpustakaan atau di dorm hahahaha. Itulah yang membuat saya sangat menyesal kenapa saya tidak menghabiskan banyak waktu jalan-jalan di Tallinn, yang super cantik. Kok jadi curhat ya 😆

Berutungnya saya punya beberapa teman yang terkadang hampir setiap weekend mengajak saya berkeliling kota (terkadang saya menolak 😭, gara-gara teralu serius mengerjakan tugas). Kunjungan pertama bersama teman-teman saya yaitu di Pääsküla rabarada atau yang dikenal dengan Paaskula Bog.
Pääsküla rabarada merupakan obyek wisata hutan. Kita dapat menemukan dan memetik blueberry disini. Saya baru pertama kali merasakan blueberry. Tau sendiri lah di Indonesia kan kagak ada buah-buahan kek ginian. Saya sih penyuka buah asam, jadi saya sukaaaa sekali! (panganan opo sih de yang gak mok senengi) Ketagihan malah hehehehe. Hutannya pun juga terawat dengan baik bahkan bersih! Jauh dari kata sampah. Kalau pergi ke Pääsküla rabarada sebaiknya ketika Summer dimana cuacanya cocok karena lebih hangat dibanding kalau pergi pas Auntumn atau Winter.

ini adalah jalan setapak di Pääsküla rabarada

kita gak perlu kuatir tersesat karena di pintu masuk Pääsküla rabarada ada peta 

Blueberry

Hewaan yang ada di danau Pääsküla rabarada, so hati-hati je

Danau Pääsküla rabarada

Saya juga mengunjungi pasar tradisional di Tallinn. Sayangnya saya tidak sempat mengambil foto. Karena pasarnya terlalu ramain. Sehingga saya hanya mengambil foto taman di dekat pasar. Tepat saat itu di taman ada sebuah festival gereja. Banyak orang-orang yang berdansa. Bahkan kakek-kakek dan nenek-nenek pun ikut berdansa. Tidak mnegherankan orang Estonia mulai dari kecil sampai tua suka menari.






Tourist landmark-nya adalah kota tua Tallinn atau saya menyebutnya Old Town Tallinn. Menurut saya paling bagus Old Town dikunjungi bulan Desember. Karena pada bulan Desember atribut-atribut natal banyak dipasang hampir di semua toko. Paling bagus pas malem hari, karena ada night market dan lampu-lampunya cantik. Saya beberapa kali mampir ke Old Town entah itu sendiri maupun dengan teman saya. Di tengah-tengah Old Town ada kedai yang menjual pancake enak dan murah 3€-4€ dan itu bisa untuk berdua. Kalau makan sendiri kelenger, seperti saya dulu karena lapar banget saya yakin menghabiskan sepiring besar pancake jumbo. Ternyata salah, akhirnya saya hanya makan separo karena kekenyangan. Sayang sekali, ketika saya mengunjungi dengan teman saya sekitar bulan Februari kalau tidak Maret 2015 tokonya sepertinya pindah. Dan saya tidak tahu alamat yang baru.

Nah, kalau ini Old Town Tallinn


Landmark yang ngehits di Tallinn



Beberapa spot di Old Town foto telah saya lampirkan di artikel saya sebelumnya. Klik saja Label Travelling hehehehehe. Kebetulan dorm saya dulu sekitar 5 menit dengan jalan kaki untuk sampai ke Old Town. Karena saya pemalas saya sering naik trolley menuju Old Town 😁😁 (jangan ditiru).

Saya punya pengalaman lucu dengan teman saya. Waktu itu Aurora Borealis akan terlihat di sekitar Tallinn. Seneng dong yaaa, soanya ke Lapland, Finlad butuh beratus-ratus euro. Nah, saya dan teman saya seharian ngecek radar dong ya. Kita memutuskan melihat Aurora. Malamnya, kita akan mencegat Aurora di pelabuhan, karena akan kelihatan kalau kita lihatnya disana.
3 jam sudah kita menunggu si Aurora dan di radar Aurora itu lagi kencang-kencangnya. Gara-gara mendung kita kagak bisa lihat! Seharusnya kita bisa lihat dengan jelas. Alhasil, kita ulang dengan tangan hampa. Padahal teman saya sudah siap-siap bawa kamera. Siap jeperet dah. Akhirnya kita memutuskan pulang karena udara makin dingin. FYI, waktu itu lagi Winter. Esoknya saya masuk angin, baru sekali dalam hidup saya merasakan masuk angin. Ternyata enggak enak bangets hahahaha.



 Tempat dimana saya melihat Aurora



***
Kemudiam tempat yang patut dikunjungi lagi yaitu Estonian Maritime Museum. Seperti di museum-museum lain yang pernah saya kunjungi, disini pengunjung juga dilarang mengambil beberapa foto. Namun, di arena tertentu seperti arena permainan dipersilahkan mengambil foto.

 Di Estonian Maritime Museum beberapa tempat dalam kondisi underconstruction
 
Setelah kami dari Estonian Maritime Museum kami menuju pantai Pirita yang letaknya tidak jauh dari Estonian Maritime Museum. Saat itu kami pergi ketika musim gugur, jadi banyak pohon yang daunnya menguning cantik!

 Pantai Pirita



Gereja di dekat Pantai Pirita

Tunggu kelanjutan "Jalan-jalan di Tallinn, part 2"

***
With love,
Ria Dhea






[UPDATE!!!] [Indonesian here] How to Apply Visa Schengen for Estonian Embassy


Saya cukup sering mendapat email atau message lewat facebook atau instagram saya, terkait pembuatan visa Estonia baik itu pelajar, wisatawan ataupun yang akan mencari pekerjaan di Estonia. Mengingat saya dulu juga kebingungan bagaimana saya apply visa Estonia, sedangkan di Indonesia sendiri tidak ada konsulat Estonia.
Saya bertanya ke PPI Estonia, kemudian saya juga berkonsultasi dengan Erasmus Coordinaton di Tallinn University of Technology (Kerti dan Siyi). Saya sangat bersyukur saya mendapat bantuan informasi dari alumni Erasmus+ (kebetulan beliau adalah kakak teman seangkatan saya), kemudian para anggota PPI Estonia, dan Erasmus Coordination.

Waktu itu ada yang menyarankan saya ke kedutaan besar Norwegia, karena beberapa orang berhasil lolos menggunakan visa Schengen yang dikeluarkan oleh kedutaan Norwegia. Namun, Kerti saya menyarankan saya untuk apply visa Schengen di kedutaan Finland, mengingat kata beliau Finland adalah negara terdekat dengan Estonia untuk proses selanjutnya seperti ijin tinggal sementara akan diurus di Tallinn sesuai dengan peraturan yang ada di website imigrasi Tallinn. Selain itu, Kerti juga membuatkan surat pengantar bahwa saya akan apply visa di kedutaan besar Finland.


Semua persyaratan telah saya lengkapi sesuai dengan website kedutaan bessar Finland untuk apply visa Schengen melewati Finland. Sebelum saya mendatangi kedutaan saya bikin janji terlebih dahulu dengan pihak kedutaan kapan saya dapat memasukkan berkas saya. Kemudian saya mendapat hari dimana saya dapat mengumpulkan berkas saya. Setelah menunggu 14 hari kerja visa Schengen saya yang dikeluarkan oleh Embassy of Finland telah selesai dan dapat diambil. Anyway, saat itu saya mendapat visa tipe C dimana itu turis. Nah pusing kan!

Info terbaru yang saya dapatkan dari beberapa rekan saya yang saat ini sedang study di Estonia, mereka tidak dapat menggunakan cara seperti saya lagi. Ada yang disarankan oleh International Relationship masing-masing kantor untuk meng-apply visa Schengen untuk study di kedutaan besar Estonia terdekat. Misalnya Singapura, Jepang, China, atau India. 2 tahun yang lalu saya mengurus ijin tinggal sementara selama 10 bulan di kantor imigrasi dan kantor polisi di Tallinn.
Jika kalian mengurus ijin tinggal sementara di Embassy of Estonia terdekat misal di Jepang kalian akan mendapat jenis visa yang berbeda. Untuk Resident Permit cardnya dapat dikirim atau dapat diambil di kantor polisi Tallinn.
Namun info yang saya dapatkan tahun 2015 kemarin, teman saya ada yang menggunakan cara seperti saya yaitu apply visa Schengen kemudian mendapat visa tipe C atau turis seperti saya dan akan mengurus Resident Permit di Tallinn nantinya. Ketika tiba di Tallinn, teman saya tidak bisa mengurus Resident Permit cardnya itu di Tallinn, jadi dia harus mengambil di Riga, Latvia.

Nah bagi teman-teman yang ingin apply visa Schengen lewat Estonia terutama untuk ijin tinggal belajar sebaiknya baca baik-baik syarat dan ketentuan di website imigrasi Estonia (bisa dibaca disini). Selain itu, saya sangat menyarankan selalu berdiskusi dengan International Office dimana kalian akan study atau dapat berdiskusi dengan PPI Estonia via facebook atau twitter.

Semoga informasi yang saya sampaikan bermanfaat.

With love,
Ria Dhea

Minggu, 24 Desember 2017

Makaroni Schotel


Libur panjang tiba!

Waktu cepat sekali berjalan. Tidak terasa sudah di penghujung tahun 2017. Sering banget teringat masa-masa kecil. Jadi, saya empat bersaudara. Saya adalah anak pertama 2 orang adik saya perempuan bekerja di tempat berbeda. Jadi, di rumah hanya ada orang tua saya dan adik laki-laki saya yang paling bontot. Kalau libur panjang seperti ini kita bisa kumpul.
Dulu waktu kita kecil sering banget kita itu bertengkar hal-hal sepele. Sampai sering membayangkan kalau saya jadi anak tunggal, enak bisa dimanja dan semuanya adalah milik saya. Seiring berjalannya waktu kalau dipikir-pikir jadi anak tunggal itu enggak enak. Rumah sepi dan gak ramai.


Seringkali waktu kita kecil berdebat hal-hal enggak penting. Pokoknya saya dan saudara-saudara saya punya love hate relationship. Kalau yang satu enggak ada pasti dicariin disuruh cepet pulang. Nah, berhubung adik saya nomer 2 dan nomer 3 itu sering protes kalau mereka pulang saya enggak masak-masak, liburan ini mereka request dibikinkan sesuatu. Sedangkan adik saya yg nomer 4 itu suka merengek kalau enggak ada makanan. Akhirnya kemarin Sabtu, 23 Desember kemarin aku bikin makaroni schotel dan es lilin susu. Es lilin susu resepnya menyusul yes.
Resep makaroni schotel ini saya dapat dari instagramnya tintinrayner, dengan sedikit modifikasi. Di resep makaroni schotel itu full keju, nah kalau saya enggak seberapa suka keju dan asin akhirnya kejunya saya kurangi takarannya. Yuk ini dia resep makaroni schotel.

Ingredients
2 sdm margarin/mentega/butter (aku pakai blue band)
1 buah bawang bombay ukuran sedang
3 buah sosis ayam atau daging
1 kaleng tuna
200 gram makaroni
350 ml susu cair (aku pakai susu full cream ultra milk)
4 butir telur
100 gr keju cheddar parut
garam secukupnya
lada secukupnya
50 gr keju cheddar parut (untuk taburan)
parseley secukupnya (aku skip, soalnya lupa kalau ternyata di kulkas ada banyak. Biar cantek aja sih kalau pakai parseley 😁)

Saus Putih:
2 sdm margarin/butter/mentega (aku pakai blue band)
2 sdm tepung terigu (aku pakai segitiga biru)
50 ml susu cair (aku pakai susu full cream ultra milk)

How to make
1. Rebus makaroni selama kurang lebih 8-9 menit. Sisihkan lalu beri minyak sedikit supaya tidak lengket.
2. Panaskan teflon, masukkan margarin/butter/mentega.
3. Masukkan bawang bombay lalu tumis hingga harum
4. Masukkan sosis yang telah dipotong dadu, kemudian tuna kaleng lalu tumis sebentar hingga harum.
5. Masukkan makaroni rebus ke dalam tumisan aduk sebentar dan perlahan. Apinya kecil saja yah pemirsaahh
6. Tuang susu ke dalam baskom kecil bersama telur dan keju lalu aduk rata. Kemudian masukkan ke dalam adonan dengan api yang kecil juga.
7. Tambahkan garam dan merica aduk perlahan sampai merata kurang kebih 3 menit. Sisihkan.

Sekarang bikin saus putihnya ya
1. Panaskan teflon kemudian masukkan mentega/margarin/butter. Biarkan meleleh
2. Masukkan tepung terigu yang telah diaduk cepat dengan menggunakan susu cair
3. Kemudian masukkan campuran tepung terigu dan susu cair ke margarin/mentega/butter yang telah dilelehkan tadu. Ingat apinya harus kecil sekali.
4. Aduk hingga mengental
5. Matikan api

Yuk balik lagi ke makaroninya yes.
1. Siapkan tempat untuk memanggang makaroni schotel-nya. Saya pakai aluminum foil cup kecil-kecil (lupa pakai ukuran berapa kali berapa).
2. Tuang adonan makaroni schotel sekitar 1 sdm lalu beri saus putih di atasnya. Kemudain tuang lagi adonan makaroni schotelnya lagi. Lalu tuang lagi dengan saus putih diatasnya. Taburi keju parut dan parseley kering diatasnya.
3. Oven selama kurang lebih 15 menit dengan suhu 180 derajat. Aku pakai api bawah dan atas ya.


Siaaap dinikmati. Beri saus pedas supaya mantap!!!
Ini bisa untuk 24 cup aluminium foil porsi kecil 😍
Selamat mencoba!

Salam,
Ria Dhea

Kamis, 23 November 2017

Rumput Tetangga Selalu Tampak Lebih Hijau

Sering sekali jika ada orang mengajak ngobrol mengira saya masih sekolah atau mahasiswa (yes masih terlihat muda!!!).
When the asked me about my job,
Spontan mereka bilang, "Enak ya jadi dosen..."
Saya, "Errr..."

Well, itu saya selalu alami. Kalau saya lagi tidak mood saya tidak akan menanggapi pernyataan tersebut dengan senyuman (sering enggak mood-nya juga sih wkakakaka). Mereka selalu membayangkan kerjaan dosen yang ena-ena kalau lagi malas mengajar yah diliburkan, kalau libur dosen ikutan libur atau gajinya gede atau banyak waktu luangnya. Itu adalah mindset kebanyakan orang, ketika saya bertanya kepada mereka mengenai pernyataan tersebut.

Infact, tidak semudah yang mereka bayangkan. Banyak sekali tanggung jawab yang harus seorang dosen lakuan, tidak hanya mengajar, then END! Pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga dan pikiran yang ekstra. Karena kita harus memberikan impact langsung kepada masyarakat atau mengabdi langsung kepada masyarakat dan mengembangkan bidang keilmuan kita. Tanggung jawab kita adalah orang which is makhluk hidup yang ketika nanti mereka lulus saya berharap ilmu yang saya sampaikan akan bermanfaat bagi mereka, dan tentunya menambah wawasan mereka. Setiap hari saya membuat layout yang akan saya ajarkan nanti, memikirkan bagaimana mereka tertarik dengan content yang saya buat, bagaimana mereka akan terus menggunakan ilmu ini ketika terjun di dunia kerja.
Setiap hari saya punya target dan target tersebut harus mencapai target yang saya buat. Karena saya merasa saya harus bertanggung jawab dengan ilmu yang saya sampaikan.
Ketika orang lain bilang dengan entengnya bilang seperti, yang saya sebutkan di kalimat pembukaan saya, terus terang saya merasa sebal!

Pernah suatu hari seorang ibu-ibu ngobrol dengan saya, "Mbak saya sebenarnya ingin anak perempuan saya jadi dosen. Biar pulangnya gak malam-malam dan saya takut kalau anak saya kan kerjaannya bawa uang orang. Kadang nanti mengganti kalau ada selisih waktu menghitung" (anyway, anaknya ibu itu kerja di sebuah bank)

Spotan dalam hati saya, "Buk, bedanya anak ibu itu pulang malam-malam atau ngopeni uang yang bukan miliknya. Kalau saya bu ngopeni anaknya orang. Saya harus bertanggung jawab dengan ilmu yang saya sampaikan. Bahkan kalau saya sedang ada deadline mengenai penelitian yang harus saya lakukan 1-2 jam tidur itu adalah suatu anugerah. Tanggung jawab saya tidak cukup sampai disitu, karena akan berlanjut selama ilmu saya digunakan. Selain itu saya harus memikirkan kontribusi apa yang harus saya berikan kepada lingkungan sekitar saya. Setiap hari saya ada target yang harus saya capai". [Karena, terkadang saya iri melihat orang kantoran yang hanya membawa tas cantek, handphone, dompet dan ballpoint].

Sebenarnya menjelaskan panjang lebar seperti ini mereka tidak akan paham. Saya hanya tersenyum seperti biasa dan bilang "Buk setiap pekerjaan pasti ada plus minusnya, mungkin ibu melihatnya seperti itu tapi ketika terjun langsung ibu akan tahu sama saja".

Saya juga terkadang merasa jenuh, tapi saya selalu mencari cara agar merasa menyenangkan. Saya rasa semua pekerjaan itu ada kurang dan lebihnya. Seperti pepatah bilang "rumput tetangga selalu kelihatan tampak hijau".
Daripada melihat rumput tetangga terus, marilah kita rawat rumput kita sendiri yang nantinya akan lebih hijau dibanding rumput tetangga.

Jadi, intinya pekerjaan apapun akan terasa menyenangkan jika kita mengerjakan dengan senang hati.  Tidak perlu lihat pekerjaan orang lain, karena kita tidak pernah tahu ada usaha apa yang mereka lakukan dibalik "yang nampak baik-baik saja".


Selasa, 12 September 2017

Hanoi Trip (Enggak Terlalu Nge-Trip Sih)-Part 2

Well, jarak antara penginapan kami dengan gedung tempat diadakannya Seams School cukup membuat saya dan teman-temannya dag dig dug. Pasalnya lalu lintasnya WOW banget.
Kepadatan lalu intas di Hanoi, Vietnam bisa bikin meinding Seperti yang saya ceritakan sebelumnya lalu lintasnya sangat padat. Saya dan teman-teman saya harus benar-benar waspada. Polisi? Jangan harap deh para pengendara ini tampaknya tidak takut dengan polisi lalu lintas yang berjaga. Lampu merah diterebos.
Bisa dibilang Indonesia masih mending lah dibanding Hanoi hehehe

Situasi kepadatan lalu intas di Hanoi [1]

Situasi kepadatan lalu intas di Hanoi [2]

at Campus,
Gedung dimana kegiatan short course diadakan. Ini adalah kampus Hanoi University of Technology. Kampusnya kecil sih namun bersih dan juga banyak pepohonan.


Kuliah yang paling berkesan menurut saya dan teman-teman saya dari Indonesia tentang Branching Processing. Bisa dibiang mata kuliah ini sungguh melelahkan. Tutornya berasal dari Prancis dan menurut saya bahasa inggrisnya tidak begitu jelas, lebih jelasan aksen France-nya (atau mungkin hanya perasaan). Bikin saya harus super konsentrasi ditambah penuh dengan rumus matematika hehehehe. Jadi melebar kemana-kemana ini curhatannya.


Ruang Kelas Situasyong [bacanya ala Syahrini yes!] when  Coffe Break

Lunch Menu at University[being a herbivore]

Basically, Lunch Menunya di universitas pertamanya WOW bangets. Enak. Tapi kalau tiap hari menunya seperti ini ya jadi tidak spesial-spesial amat [tim pecinta seafood].
Bosan selama hampir seminggu menu-nya something like a herbivore. Tapi menariknya mereka mengolah aneka tepung-tepungan biar rasanya mirip kek ayam dan daging.

Some Vietnamese have a religion, but I'm not remember what kind of religion [maybe like Budhist?] yang melarang mereka makan olahan daging atau ikan, bahkan mereka enggak makan telur juga. So, oleh pihak penyelenggaranya kami dianggap vegetarian seperti mereka. Soalnya pas waktu saya e-mail panitianya request kami makan ikan tapi gak di accepted sama mereka (wkakakaka gratisan minta enak yes). Nah makanya kami yang dari Indonesia menunya seperti ini.

Pernah juga kami mendapat menu super ZONK ketika habis pulang dari field trip. Ini dia THE MOST TERRIFIED MENU!
Ini mirip seperti sup lele terus bau amis


Salah satu food street di Hanoi. Walapun, rata-rata perut mahasiswa di Indonesia itu anti racun (apapun makanannya yang penting murah dan halal hahaha dengan kata lain sama sekali tidak sehat), terutama saya apapun itu masuk mulut, saya enggak deh kalau makan street food di Hanooi macam ini karena ya itu joroknya lebih parah dibanding di Surabaya.

***
Hoam Kiem Lake, kata teman saya yang asli Vietnam bilang, sungai ini adalah hiburan bagi masyarakat yang ditnggal di Hanoi. Saban weekend selalu ramai. Beberapa akses jalan ditutup untuk kendaraan bermotor. Jadi pedistrian dan para wisatawan bisa leluasa berjalan menyusuri Hoam Kiem Lake.




Kalau ini adalah Turtle Temple. Menurut saya sih, informasi mengenai sejarah Temple ini kurang begitu lengkap.


FYI, ice cream yang terkenal di Hanoi. Kata teman saya sih ice cream ini sudah ada beberapa generasi. Rasanya enak full susu. Disisi lain enak karena kita ditraktir wkakakakaka


Nah ini teman-teman saya pada makan food streetnya. Saya dan teman-teman saya dari Indonesia sih NO!!! Bukannya sok-sokan ya karena kami takut kalau ini ada kuah dari sesuatu yang tidak halal. Jadi, kami sebisanya menghindari. Lagipula, hmmm yah jorok. Di depan pas kami duduk ada bak besar isinya piring-piring kotor. Semakin gak napsong. Maaf hehehehe

Street Food [1]


Street Food [2]


Anyway, saya hanya punya beberapa foto waktu short course. Hanya beberapa aja sebagai dokumentasi. Karena, jujur saja saya kurang nyaman ketika di kelas mengambil foto.


***
Ada hari dimana kita ditawari oleh pihak penyelenggara untuk mengikuti tour keliling Hanoi. Sebenarnya sudah ditentukan sih oleh panitia mau pergi kemana saja dan menurut saya sih pilihan panitianya kurang sip. Apalagi pas di museum. Sumpah kita clueless banget. Banyak lukisan atau artefak yang tidak diberikan informasi mengenai sejatahnya alias minim info.


Salah satu kuil terkenal di Hanoi. Kalau boleh jujur saya lupa tepatnya nama kuilnya. Kata teman saya orang Vietnam, sebelum ujian para pelajar akan sembahyang di kuil ini. Setelah pengumuman beberapa dari mereka akan merayakan upacara kelulusan mereka di kuil ini juga. Para pelajar disini cantik-cantik. Kerima mereka merayakan upacara kelulusan, mereka memakai baju tradisional Vietnam berwarna putih baik cewek atau cowok.
Salah satu spot kuil
 
Ini adalah salah satu teman saya yang ingin berfoto disamping jalan raya dekat kuil









Nah ini adalah museum yang saya bilang tadi sangat membosankan [1]
 
Nah ini adalah museum yang saya bilang tadi sangat membosankan [2]

Salah satu penghuni Museum [1]

Salah satu penghuni Museum [2]

Salah satu penghuni Museum [3]

***
Setelah acara study excursion berakhir,
Kami geng Indonesia main ke Masjid, karena kita pingin tau dong seperti apa satu-satunya masjid di Hanoi. 
 Masjid di Hanoi ini terlihat kecil dari dean, tapi aslinya lumayan gede kalau pas masuk.

Lunch, kita di kampus tadi sama sekali tidak cocok di lidah orang Indonesia. Jadi, selama makan siang tidak seorangpun dari kami makan siang di kampus. Sehingga kami kelaparan abis! Alhamdulillah di samping masjid ada orang jualan makanan halal. Tempatnya pas disamping persis Masjid bisa dibilang jadi satu dengan masjid.  Disana makanannya TOP banget alias enak banget, dengan harga super murah dan yang pasti halal. Kita berempat pesan menu yang berbeda. 

Makanan yang saya pesan

Daftar Menu Makanan

Setelah kita selesai makan kita melanjutkan plesiran di area kota. Sekalian kita beli oleh-oleh disekitar old townnya. Ramai old townnya mungkin karena itu adalah hari Minggu.

Gereja Katlik di Old Town. Suka ada pertunjukan sih disini.


Pas kita jalan-jalan tidak sengaja ketemu knsulat Indonesia di Hanoi.

Mausoleum Ho Chi Minh [1]
 
Mausoleum Ho Chi Minh [2]



Ngoc Son Temple [1]
 
Ngoc Son Temple [2]

Chua Tran Quoc

***
Last day, kami diundang oleh Vietnamese yang baik hati dinner di rumahnya. Enak makanannya. Aduh kebayang-kebayang bwakakaka. Suka sekali dengan sayuran yang ada di Hanoi. Krenyes-krenyes dan segar seperti sayuran di waktu di Seoul, Korea.
Apalagi saya pecinta sayur. Semakin menambahnya nikmatnya duniawi hahahaha.

Vegetraian Menu Vietnamese Style [1]
Vegetraian Menu Vietnamese Style [2]

Vegetraian Menu Vietnamese Style [3]

 Vegetraian Menu Vietnamese Style [4]

***
TIPS Belanja di Hanoi
  1. Hanoi terkenal dengan kelezatan kopinya. Bagi pecinta kopi Vietnam adalah surganya. Kopi yang terkenal di Vietnam yaitu Trung Nguyen. Kalian bisa membeli di supermarket-supermarket atau di sepanjang Old Town Quarter
  2. I am highly recommend going to INTIMEX SUPERMARKET. Kalian bisa cari jenis kopi disini dengan harga yang murah dibandingkan membeli di supermarket-supermarket di sekitar Old Town. The good news, tidak hanya kopi mereka menjual banyak sekali oleh-oleh khas Vietnam. 
  3. Letak Intimex di dekat Hoam Kiem Lake. Tempatnya agak masuk ke dalam. Saya kalap dengan membeli banyak oleh-oleh dan habis 350k IDR dan itu membuat koper saya harus memblendung tidak karuan.
  4. Pokoknya BE CAREFUL waktu jalan dimanapun berada. Awasi tas, dompet, handphone, passport atau pokonya barang penting! Banyak copet cuyyy!!!
***
With love,
Ria